Studentpreneur | Media Bisnis | Ide Bisnis | Bisnis Anak Muda

Berita Bisnis Best People Inovator teknologi

Drop Out Kuliah, Bos Snapchat Justru Menjadi Miliarder di Usia Muda


Menjadi seorang miliarder tidak harus lulus kuliah, Bos Snapchat pun membuktikan hal tersebut dengan tidak melanjutkan kuliahnya di Stanford University.

Siapa yang mengira, berawal dari tugas akhir salah satu mata kuliah ternyata bisa menjadi aplikasi yang digunakan 500 juta kali dalam sehari. Snapchat adalah aplikasi photo messaging, jadi Anda bisa chatting sambil mengirimkan foto. Sekarang aplikasi Snapchat ditaksir mempunyai nilai sampai 10 miliar dolar. Adalah Evan Spiegel, sang pembuat aplikasi Snapchat pertama kali, sekarang Evan menjadi CEO Snapchat Inc.

 

Evan Spiegel

Kisah dimulai ketika Evan masuk kuliah di Stanford University. Evan mengambil jurusan desain produk. Ketika itu Evan adalah mahasiswa angkatan 2008, dan jika lancar dia akan lulus pada tahun 2012. Tetapi ketika membuat tugas akhir, Evan merasa bahwa aplikasinya ini akan besar dan butuh perhatian lebih. Yang kemudian dia keluar dari Stanford pada tahun 2011, padahal Evan hanya kurang 3 mata kuliah lagi. Dan itu mencatatkan Evan sebagai mahasiswa drop out kesekian kalinya yang sukses.

Evan adalah warga Amerika Serikat kelahiran Los Angeles pada tahun 1990, ya sekarang dia masih berumur 24 tahun. Evan sangat menyukai bidang seni dan science sejak kecil. Pada saat SMA, dia masuk sekolah Crossroads School for Arts and Science sebelum kemudian masuk di jurusan desain produk di Stanford University.

evan-spiegel-snapchat

Aplikasinya diejek

Tidak seperti kebanyakan anak kuliah lainnya, Evan selama kuliah tinggal bersama orang tuanya. Bahkan, ketika meluncurkan Snapchat untuk pertama kalinya, dia menggunakan ruang tamu rumah orang tuanya.

Sebenarnya nama dari aplikasi Snapchat buatan Evan ini adalah Picaboo. Konsep pertama Picaboo adalah aplikasi chatting tetapi menggunakan foto, mirip meme. Karena ide tersebut hampir mirip konsep dari Facebook atau Instagram, teman-temannya banyak yang mengejek. Mulai dari aplikasinya adalah sia-sia karena harus melawan aplikasi chatting yang sudah besar lainnya, bahkan Evan dituduh hanya membantu para hidung belang untuk melakukan sexting – hal-hal yang berbau seks.

 

Tidak berhenti berusaha

Tetapi Evan tidak berhenti sampai disitu, dia tetap melanjutkan pengembangan Snapchat. Snapchat di launching pertama kali pada Juli 2011, lalu kemudian mulai diluncurkan di iTunes. Dalam sekejap, Snapchat menjadi aplikasi yang sering dipakai. Bahkan dalam 5 bulan pengguna sudah membagikan setidaknya 1 miliar foto di Snapchat. Dengan kesuksesan tersebut, Snapchat mendapatkan banyak perhatian, mulai dari pengguna dan pendanaan. Pendanaan pertama Snapchat hanya sebesar 500ribu dolar, sekarang pada tahun 2013 lalu Snapchat mendapatkan pendanaan 50juta dolar. Snapchat sekarang menguasai sekitar 10% handphone di Amerika.

 

Snapchat berawal dari sebuah ide yang sederhana, yaitu ingin memberikan aplikasi chatting dengan ide yang berbeda dengan chatting lainnya. Evan juga membuat aplikasi jutaan dolar ini dirumahnya, untuk tugas akhir dan bahkan diejek oleh teman-temannya. Anda bisa melihat, dari ide yang sederhana tapi dibuat dengan niat Evan bisa seorang jutawan. Terinspirasi oleh artikel ini? Bagikan untuk teman-teman Anda di social media ya! Anda juga bisa mendapatkan informasi bisnis anak muda kreatif melalui Facebook atau Twitter Studentpreneur. [Photo Credit: TechCrunch]

 

Rekomendasi Editor Hari Ini:

Tertarik Bisnis Online Shop, Gadis 18 Tahun Ini Raup Untung Jutaan Rupiah per Bulannya

Ternyata, Modal Awal Nike Hanya 5 Juta Rupiah

Introducing Startup Speakup, Program Untuk Anda!

Dior Asning Kosyu

Bercita-cita menjadi pemain basket, kini Dior berubah profesi menjadi jurnalis yang ingin memperbaiki Indonesia melalui tulisannya.

Facebook Twitter Google+ 

Summary
Article Name
Drop Out Kuliah, Bos Snapchat Justru Menjadi Miliarder di Usia Muda
Author
Description
Menjadi seorang miliarder tidak harus lulus kuliah, Bos Snapchat pun membuktikan hal tersebut dengan tidak melanjutkan kuliahnya di Stanford University.